Sabtu, 27 Februari 2010

alam tanda kebesaran dan keberada.an allah

Mengingat Allah Dengan
Membaca Alam Cetak E-mail
Senin, 26 Oktober 2009 01:46
"Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi dan
silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal." -QS
Ali Imran: 190-
Tsabit Bannani berkata,"Suatu ketika
Nabi Daud a.s melewati sebuah
lampu penerang yang sedang
menyala. Kemudian, dia teringat
akan api neraka yang dahsyat. Maka,
seketika itu juga dia bergetar dan
menjerit dengan keras sehingga
tampak anggota badan dan sendi-
sendinya akan terputus."
Demikianlah di antara akhlak sufi
yang mulia. Seorang sufi sejati
selalu memandang dunia dengan
pandangan iktibar (pelajaran) bukan
pandangan syahwat dan rasa
senang.
Hatim AlAshamm pernah di
tanya,"Kapan salah seorang di
antara kita dapat menjadi orang
yang selalu mengambil pelajaran?"
Hatim Menjawab,"Apabila orang itu
dapat melihat bahwa apapun di
dunia akan sirna dan bahwa orang
yang memiliki kekayaan dunia juga
akan sirna."
Yahya bin Muadz
berkata,"Hendaklah pandanganmu
terhadap dunia adalah pandangan
iktibar, pemanfaatanmu pada dunia
adalah keterpaksaan, dan
penolakanmu pada dunia adalah
pilihan."
Selanjutnya para sufi senantiasa
melihat proses penciptaan alam
sebagai sarana menuju (Keridhaan)
Allah. Mereka selalu membaca
berbagai hikmah yang ada di balik
alam. Mereka menafakuri semuanya
hingga menghasilkan rumusan
pengetahuan purna yang berguna
bagi kehidupan manusia setelah
mereka. Matahari, bumi dan langit di
pandang oleh mereka bukan
sekadar untuk dinikmati
keindahannya, tetapi untuk
direnungkan hikmah dibaliknya.
Jika kita menafakuri alam ini dengan
pikiran jernih, kita akan menemukan
bahwa alam semesta bagaikan
bangunan rumah yang
menyediakan berbagai perlengkapan
yang sempurna. Langit ditinggikan
seperti atap, bumi dihamparkan
seperti lantai, bintang-bintang
ditaburkan seperti lampu, dan
barang-barang tambang di perut
bumi ibarat kekayaan yang
terpendam. Semua itu disiapkan dan
disediakan untuk kepentingan alam
itu. Sementara itu, manusia ibarat
pemilik rumah yang dianugerahi
segala isinya. Berbagai jenis
tumbuhan disediakan untuk
memenuhi kebutuhannya dan
bermacam-macam hewan diberikan
untuk menopang kehidupannya.
Allah SWT telah menciptakan langit
ini dengan warna yang dapat di
pandang mata. Seandainya langit
diciptakan dalam bentuk sinar atau
cahaya, pasti akan menyakitkan
mata orang yang memandangnya.
Warna kebiru-biruan membuat
mata manusia bisa menikmati
pemandangan langit.. Apalagi ketika
malam mengganti siang, dan
bintang-bintang serta bulan
bercahaya terang, manusia dapat
memandang ciptaan Allah. Dan,
dalam keindahan langit, manusia
dapat menemukan Tuhan, Pencipta
jagat raya.
Selanjutnya ketika menyadari
keindahan langit, manusia akan
merenungkan keindahan tata surya.
Perputaran bintang-bintang
memberikan petunjuk arah dan
waktu kepada manusia. Ada
lintasan-lintasan yang bekas-
bekasnya dapat terlihat di barat dan
di timur. Ada juga kumpulan
bintang yang membentuk rasi
tertentu sehingga menjadi petunjuk
arah bagi orang yang tersesat.
Dengan petunjuk rasi bintang,
manusia dapat menemukan arah
yang ditujunya.
Keberadaan tata surya langit
menjadi dalil yang jelas tentang
keberadaan Tuhan yang
menciptakannya. Rancangan langit
yang sangat kukuh menunjukkan
keluasan ilmu penciptanya.
Keteraturannya menunjukkan
kehendak penciptanya. Karena itu,
Maha suci Allah yang Maha Kuasa,
Maha Tahu, dan Maha Berkehendak.
Sebagian ulama menuturkan
sepuluh keuntungan dalam
memandang langit, Yaitu:
1. Mengingatkan kepada Allah SWT,
2. Memancarkan pengagungan
kepada Allah dalam hati,
3. Menghilangkan pikiran buruk,
4. Mengurangi rasa suntuk,
5. Mengendorkan perasaan was-
was,
6. Menghilangkan perasaan takut,
7. Memberikan semangat bagi
orang yang patah hati,
8. Menghibur orang yang sedang di
landa rindu,
9. Memberikan rasa tenteram bagi
orang yang sedang jatuh cinta,
10. Kiblat bagi orang-orang yang
sedang berdoa.

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com