ANTARA SUKMA NURANI DAN
SUKMA DHULMANI - oleh
Jalaluddin Rakhmat
Tiensetyo
Aja
Rowikarim
Doddy
Goentoro
06 Oktober 2009 jam 9:11
Menurut para sufi, manusia adalah
mahluk Allah yang paling
sempurna di dunia ini. Hal ini,
seperti yang dikatakan
Ibnu'Arabi manusia bukan saja
karena merupakan khalifah Allah
di bumi yang dijadikan sesuai
dengan citra-Nya, tetapi juga
karena ia merupakan mazhaz
(penampakan atau tempat
kenyataan)
asma dan sifat Allah yang paling
lengkap dan menyeluruh.
Allah menjadikan Adam (manusia)
sesuai dengan citra-Nya.
Setelah jasad Adam dijadikan dari
alam jisim, kemudian Allah
meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad
Adam. Allah berfirman:
Maka apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya dan
Aku
tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15:
29)
Jadi jasad manusia, menurut para
sufi, hanyalah alat, perkakas
atau kendaraan bagi rohani dalam
melakukan aktivitasnya.
Manusia pada hakekatnya bukanlah
jasad lahir yang diciptakan
dari unsur-unsur materi, akan tetapi
rohani yang berada dalam
dirinya yang selalu mempergunakan
tugasnya.
Karena itu, pembahasan tentang
jasad tidak banyak dilakukan
para sufi dibandingkan pembahasan
mereka tentang ruh (al-ruh),
jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati
nurani atau jantung
(al-qalb).
RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-
NAFS)
Banyak ulama yang menyamakan
pengertian antara ruh dan jasad.
Ruh berasal dari alam arwah dan
memerintah dan menggunakan
jasad sebagai alatnya. Sedangkan
jasad berasal dari alam
ciptaan, yang dijadikan dari unsur
materi. Tetapi para ahli
sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh
berasal dari tabiat Ilahi
dan cenderung kembali ke asal
semula. Ia selalu dinisbahkan
kepada Allah dan tetap berada dalam
keadaan suci.
Karena ruh bersifat kerohanian dan
selalu suci, maka setelah
ditiup Allah dan berada dalam jasad,
ia tetap suci. Ruh di
dalam diri manusia berfungsi
sebagai sumber moral yang baik
dan mulia. Jika ruh merupakan
sumber akhlak yang mulia dan
terpuji, maka lain halaya dengan
jiwa. Jiwa adalah sumber
akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan
al-Ghazali membagi
jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-
tumbuhan), jiwa hewani
(binatang) dan jiwa insani.
Jiwa nabati adalah kesempurnaan
awal bagi benda alami yang
organis dari segi makan, tumbuh
dan melahirkan. Adapun jiwa
hewani, disamping memiliki daya
makan untuk tumbuh dan
melahirkan, juga memiliki daya
untuk mengetahui hal-hal yang
kecil dan daya merasa, sedangkan
jiwa insani mempunyai
kelebihan dari segi daya berfikir (al-
nafs-al-nathiqah).
Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-
nathiqah atau
al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut
para filsuf dan sufi,
yang merupakan hakekat atau
pribadi manusia. Sehingga dengan
hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal
yang umum dan yang
khusus, Dzatnya dan
Penciptaannya.
Karena pada diri manusia tidak
hanya memiliki jiwa insani
(berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan
hewani, maka jiwa
(nafs) manusia mejadi pusat tempat
tertumpuknya sifat-sifat
yang tercela pada manusia. Itulah
sebabnya jiwa manusia
mempunyai sifat yang beraneka
sesuai dengan keadaannya.
Apabila jiwa menyerah dan patuh
pada kemauan syahwat dan
memperturutkan ajakan syaithan,
yang memang pada jiwa itu
sendiri ada sifat kebinatangan, maka
ia disebut jiwa yang
menyuruh berbuat jahat. Firman
Allah, "Sesungguhnya jiwa yang
demikian itu selalu menyuruh
berbuat jahat." (QS. 12: 53)
Apabila jiwa selalu dapat menentang
dan melawan sifat-sifat
tercela, maka ia disebut jiwa
pencela, sebab ia selalu mencela
manusia yang melakukan
keburukan dan yang teledor dan lalai
berbakti kepada Allah. Hal ini
ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku
bersumpah dengan jiwa yang selalu
mencela." (QS. 75:2).
Tetapi apabila jiwa dapat terhindar
dari semua sifat-sifat
yang tercela, maka ia berubah jadi
jiwa yang tenang (al-nafs
al-muthmainnah). Dalam hal ini
Allah menegaskan, "Hai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada
Tuhanmu dengan rasa puas lagi
diridhoi, dan masuklah kepada
hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30)
Jadi, jiwa mempunyai tiga buah
sifat, yaitu jiwa yang telah
menjadi tumpukan sifat-sifat yang
tercela, jiwa yang telah
melakukan perlawanan pada sifat-
sifat tercela, dan jiwa yang
telah mencapai tingkat kesucian,
ketenangan dan ketentraman,
yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa
muthmainnah inilah yang telah
dijamin Allah langsung masuk
surga.
Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang
selalu berhubungan dengan
ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai
sumber moral mulia dan
terpuji, dan ia hanya mempunyai
satu sifat, yaitu suci.
Sedangkan jiwa mempunyai
beberapa sifat yang ambivalen. Allah
sampaikan, "Demi jiwa serta
kesempurnaannya, Allah
mengilhamkan jiwa pada keburukan
dan ketaqwaan." (QS.91:7-8).
Artinya, dalam jiwa terdapat potensi
buruk dan baik, karena
itu jiwa terletak pada perjuangan
baik dan buruk.
AKAL
Akal yang dalam bahasa Yunani
disebut nous atau logos atau
intelek (intellect) dalam bahasa
Inggris adalah daya berpikir
yang terdapat dalam otak,
sedangkan "hati" adalah daya jiwa
(nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir
yang ada pada otak di
kepala disebut akal. Sedangkan yang
ada pada hati (jantung) di
dada disebut rasa (dzauq). Karena
itu ada dua sumber
pengetahuan, yaitu pengetahuan
akal (ma'rifat aqliyah) dan
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah).
Kalau para filsuf
mengunggulkan pengetahuan akal,
para sufi lebih mengunggulkan
pengetahuan hati (rasa).
Menurut para filsuf Islam, akal yang
telah mencapai tingkatan
tertinggi --akal perolehan (akal
mustafad)-- ia dapat
mengetahui kebahagiaan dan
berusaha memperolehnya. Akal
yang
demikian akan menjadikan jiwanya
kekal dalam kebahagiaan
(sorga). Namun, jika akal yang telah
mengenal kebahagiaan itu
berpaling, berarti ia tidak berusaha
memperolehnya. Jiwa yang
demikian akan kekal dalam
kesengsaraan (neraka).
Adapun akal yang tidak sempurna
dan tidak mengenal
kebahagiaan, maka menurut al-
Farabi, jiwa yang demikian akan
hancur. Sedangkan menurut para
filsuf tidak hancur. Karena
kesempurnaan manusia menurut
para filsuf terletak pada
kesempurnaan pengetahuan akal
dalam mengetahui dan memperoleh
kebahagiaan yang tertinggi, yaitu
ketika akan sampai ke
tingkat akal perolehan.
HATI SUKMA (QALB)
Hati atau sukma terjemahan dari
kata bahasa Arab qalb.
Sebenarnya terjemahan yang tepat
dari qalb adalah jantung,
bukan hati atau sukma. Tetapi,
dalam pembahasan ini kita
memakai kata hati sebagaimana
yang sudah biasa. Hati adalah
segumpal daging yang berbentuk
bulat panjang dan terletak di
dada sebelah kiri. Hati dalam
pengertian ini bukanlah objek
kajian kita di sini, karena hal itu
termasuk bidang kedokteran
yang cakupannya bisa lebih luas,
misalnya hati binatang,
bahkan bangkainya.
Adapun yang dimaksud hati di sini
adalah hati dalam arti yang
halus, hati-nurani --daya pikir jiwa
(daya nafs nathiqah) yang
ada pada hati, di rongga dada. Dan
daya berfikir itulah yang
disebut dengan rasa (dzauq), yang
memperoleh sumber
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah).
Dalam kaitan ini Allah
berfirman, "Mereka mempunyai
hati, tetapi tidak dipergunakan
memahaminya." (QS. 7:1-79).
Dari uraian di atas, dapat kita ambil
kesimpulan sementara,
bahwa menurut para filsuf dan sufi
Islam, hakekat manusia itu
jiwa yang berfikir (nafs insaniyah),
tetapi mereka berbeda
pendapat pada cara mencapai
kesempurnaan manusia. Bagi para
filsuf, kesempurnaan manusia
diperoleh melalui pengetahuan
akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan
para sufi melalui
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah).
Akal dan hati sama-sama
merupakan daya berpikir.
Menurut sufi, hati yang bersifat
nurani itulah sebagai wadah
atau sumber ma'rifat --suatu alat
untuk mengetahui hal-hal
yang Ilahi. Hal ini hanya
dimungkinkan jika hati telah bersih
dari pencemaran hawa nafsu
dengan menempuh fase-fase moral
dengan latihan jiwa, serta
menggantikan moral yang tercela
dengan moral yang terpuji, lewat
hidup zuhud yang penuh taqwa,
wara' serta dzikir yang kontinyu,
ilmu ladunni (ilmu Allah)
yang memancarkan sinarnya dalam
hati, sehingga ia dapat
menjadi Sumber atau wadah
ma'rifat, dan akan mencapai
pengenalan Allah Dengan demikian,
poros jalan sufi ialah
moralitas.
Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai
dengan tabiat terpuji
adalah sebagai kesehatan hati dan
hal ini yang lebih berarti
ketimbang kesehatan jasmani sebab
penyakit anggota tubuh luar
hanya akan membuat hilangnya
kehidupan di dunia ini saja,
sementara penyakit hati nurani akan
membuat hilangnya
kehidupan yang abadi. Hati nurani
ini tidak terlepas dari
penyakit, yang kalau dibiarkan justru
akan membuatnya
berkembang banyak dan akan
berubah menjadi hati dhulmani
--hati yang kotor.
Kesempurnaan hakikat manusia
(nafs insaniyah) ditentukan oleh
hasil perjuangan antara hati nurani
dan hati dhulmani. Inilah
yang dimaksud dengan firman Allah
yang artinya, "Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang
mensucikan jiwanya, dan rugilah
orang yang mengotorinya." (QS.
91:8-9).
Hati nurani bagaikan cermin,
sementara pengetahuan adalah
pantulan gambar realitas yang
terdapat di dalamnya. Jika
cermin hati nurani tidak bening,
hawa nafsunya yang tumbuh.
Sementara ketaatan kepada Allah
serta keterpalingan dari
tuntutan hawa nafsu itulah yang
justru membuat hati-nurani
bersih dan cemerlang serta
mendapatkan limpahan cahaya dari
Allah Swt.
Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah
melimpahkan cahaya pada
dada seseorang, tidaklah karena
mempelajarinya, mengkajinya,
ataupun menulis buku, tetapi
dengan bersikap asketis terhadap
dunia, menghindarkan diri dari hal-
hal yang berkaitan
dengannya, membebaskan hati
nurani dari berbagai pesonanya,
dan menerima Allah segenap hati.
Dan barangsiapa memiliki
Allah niscaya Allah adalah miliknya.
Setiap hikmah muncul dari
hati nurani, dengan keteguhan
beribadat, tanpa belajar, tetapi
lewat pancaran cahaya dari ilham
Ilahi.
Hati atau sukma dhulmani selalu
mempunyai keterkaitan dengan
nafs atau jiwa nabati dan hewani.
Itulah sebabnya ia selalu
menggoda manusia untuk
mengikuti hawa nafsunya.
Kesempurnaan
manusia (nafs nathiqah), tergantung
pada kemampuan hati-nurani
dalam pengendalian dan
pengontrolan hati dhulmani.
Total Tayangan Halaman
Category
- 73 golongan islam untuk di pilah (1)
- asal usul tarekat (1)
- cara cepat browser/buat email via hp (1)
- diantara tepi jaman (1)
- dzikir berjamaah (1)
- frendster di hp (1)
- hti (1)
- jalaludin rumi (1)
- kisah sufi (8)
- maulid bukan bid'ah dolalah (1)
- optimalisasi fungsi hp untk dunia cyber (1)
- pendapat ulama tentang sufi (1)
- puisi sufi (1)
- ruh hati .. (1)
- salah faham tentang tawassul (1)
- sejarah tahlil (2)
- Sejuta hikmah sakit (1)
- tauhid uluhiyah (4)
- trntang takdir (1)
- virus wahabi (1)
Sabtu, 06 Februari 2010
pandangan sufi
Diposting oleh
dizk
di
08.52
Label: ruh hati ..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Blog Archive
-
►
2009
(6)
- ► 08/02 - 08/09 (3)
- ► 08/09 - 08/16 (2)
- ► 11/15 - 11/22 (1)
-
▼
2010
(15)
- ► 01/24 - 01/31 (3)
- ► 02/07 - 02/14 (2)
- ► 02/21 - 02/28 (7)
- ► 10/24 - 10/31 (1)
-
►
2011
(15)
- ► 12/04 - 12/11 (4)
- ► 12/11 - 12/18 (11)
0 komentar:
Posting Komentar